News
Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 November 2015

Unknown

Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli - Aplikasi Pendidik

Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli

Jika kita ingin mengenali ada begitu banyak terdapat Model-Model Penelitian tindakan Kelas, Bapak/Ibu Guru semua tentu sudah banyak pengalaman dari pengalaman tersebut tentu pula adalah jam terbang, dari situlah bermuara hadirnya PTK disajikan guna melahirkan solus-solusi yang kita sudah dapat sebelumnya. Sebelum kita lebih jauh mengetahui Penelitian Tindakan Kelas pada posting ini kami menyajikan model atau Jenis-Jenis Penelitian Tindakan Kelas.

Terdapat beberapa  model PTK yang dapat dikembangkan sesuai masalah yang dihadapi oleh setiap guru. Model-model PTK yang dimaksud diantaranya adalah :

1. Model Kurt Lewin
Model Kurt Lewin merupakan model yang menjadi acuan daripada semua model PTK yang dikembangkan,  lantaran Kurt Lewin adalah orang pertama kali yang memperkenalkan Classrom Actions Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas. Model Kurt Lewin menetapkan empat langkah dalam PTK, yaitu :perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observating), dan refleksi (reflecting). 
Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli

2. Model Kemmis Mc Targart
Model yang dikemukakan Kemmis & Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Kurt Lewin. Secara mendasar tidak ada perbedaan yang prinsip antara keduanya. Model ini banyak dipakai karena sederhana dan mudah dipahami. Rancangan Kemmis & Taggart dapatmencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri dari tahap-tahap: perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-tahapan ini berlangsung secara berulang-ulang, sampai tujuan penelitian tercapai.
Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli


3. Model John Elliott
Model John Elliot; apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan).Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa tahap itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya
Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli


4. Model Dave Ebbut
Model PTK yang digambarkan oleh Ebbutt menunjukkan bentuk alur kegiatan penelitian. Dimulai dengan pemikiran awal penelitian yang berupa pemikiran tentang masalah yang dihadapi di dalam kelas, penentuanfokus permasalahan berada pada bagian ini. Dari pemikiran awal dilanjutkan dengan pemantauan (reconnaissance), pada bagian pemantauan ini Ebbutt berpendapat berbeda dengan penafsiran Elliot mengenai pemantauannya Kemmis, yang seakan-akan hanya berkaitan dengan penemuan fakta saja(fact finding only).Padahal, menurut Ebbutt pemantauan mencakup kegiatan-kegiatandiskusi, negosiasi, menyelidiki kesempatan, mengakses kemungkinan dan kendala ataumencakup secara keseluruhan analisis yang dilakukan.Berdasarkan pemikiran awal dan pemantauan kemudian dilanjutkan dengan menyusun perencanaan dan berturut-turut dengan kegiatan pelaksanaan tindakan yang pertama, pengawasandan pelaksanaan pemantauan, dan melanjutkan pelaksanaan tindakan kedua. Pada siklus yang digambarkan oleh Ebbutt, dia memberikan pemikiran bahwa jika dalam pelaksanaan dan pemantauan setelah tindakan ada masalah mendasar yang dialami, maka perlu perubahan perencanaan dan kembali melaksanakan bagian siklus tertentu yang telah dijalani.
Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli

5. Model Hopkins
Desain ini berpijak pada desain model PTK pendahulunya. Selanjutnya
Hopkins (2011) menyususun desain tersendiri sebagai berikut:
mengambil start – audit – perencanaan konstruk – perencanaan tindakan
(target, tugas, kriteria keberhasilan) – implementasi dan evaluasi: implementasi (menopang komitmen: cek kemajuan; mengatasi problem) – cek hasil – pengambilan stok – audit dan pelaporan.
Sumber: Sukayati.( 2008) Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika,Rofi’udin, A. H. 1996. Rancangan Penelitian Tindakan.

Kamis, 22 Oktober 2015

Unknown

Cara Menulis Karya Ilmiah Yang Baik Dan Benar - Aplikasi Pendidik

Cara Menulis Karya Ilmiah Yang Baik Dan Benar

Seorang guru dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan/PKB harus memenuhi unsur ini dalam kenaikan pangkat dan jabatan tertentu seperti sebelumnya lihat petunjuk pelaksana kenaikan pangkat dari segala ketentuan tersebut ada baiknya kita mempelajari lebih awal petunjuk tentang penulisan karya ilmiah yang baik dan benar sesuai aturan yang berlaku. Banyak hal yang dasar dari sebuah karya ilmiah. misal PTK /Penelitian Tindakan Kelas, Skripsi, Tesis, Disertasi dsb.

Memang jika kita telah mengetahui struktur karya ilmiah yang baik maka akan terasa mudah menyusun komponen-komponen penting dalam sebuah karya ilmiah yang kami jabarkan sebagai berikut:
  • Bagian dalam tulisan ilmiah, antara lain:
  • Judul tulisan
  • Nama dan alamat penulis
  • Abstrak
  • Pengantar
  • Permasalahan penelitian
  • Bahan dan cara penelitian
  • Hasil
  • Pembahasan
  • Simpulan
  • Ucapan terima kasih
  • Daftar pustaka
  • Daftar Isi
Kita rincikan satu persatu sebagai berikut:
1. Judul Tulisan
  • Judul dibuat lebih spesifik yang menggambarkan isi tulisan.
  • Judul hendaknya jangan terlalu panjang.
  • Judul tidak boleh mengandung singkatan.
  • Judul tidak harus berupa kalimat lengkap
2. Nama dan Alamat Penulis
Pada jurnal ilmiah gelar akademik tidak dicantumkan. Apabila terdapat lebih dari satu penulis, maka penulis yang kontribusinya lebih banyak diletakkan di urutan pertama. Alamat posel (e-mail) juga lazim digunakan.

3. Abstrak 
Abstrak tulisan ilmiah harus:
1. Menyatakan tujuan utama dan skop penelitian,
2. Menerangkan bahan dan metoda yang dipakai,
3. Meringkas hasil,
4. Menyatakan simpulan utama.

4. Pengantar
Pengantar harus mengandung empat hal pokok:
1. Sifat dan permasalahan yang akan diteliti
2. Tinjauan kepustakaan
3. Cara dan bahan penelitian
4. Hasil penelitian

Pengantar harus memuat jawaban atas pertanyaan apa (what), di mana (where), kapan (when), mengapa (why) dan bagaimana (how).

Akhir-akhir ini penipisan lapisan ozon telah menyebabkan masuknya sinar matahari ke bumi tidak tersaring (kondisi tidak stabil). Akibatnya, kita kan menanggung tingginya insiden kanker dan biaya medis (kerugian akibat kondisi tidak stabil).

Pernyataan solusi masalah, misalnya:
Kita dapat mencegah akibat-akibat ini bila kita melarang pemakaian bahan kimia yang mendegredasi lapisan ozon (solusi).

5. Permasalahan Penelitian
Penegasan permasalah yang ditulis dalam pengantar. Bahasan konteks harus lebih luas.

6. Bahan 
Dalam bahan penelitian harus disebutkan:
a. Asal penelitian
b. Jumlah penelitian
c. Waktu pendataan bahan
Jika penelitian menggunakan subjek manusia, maka diperlukan persetujuan dari yang bersangkutan

7. Cara Penelitian (Metodologi)
Harus memperhatikan fakta (reliabilitas) dan keaslian data (validitas).
Reliabilitas adalah kemampuan mengukur untuk mendapatkan hasil yang konsisiten.
Validitas menunjukkan bahwa ukuran pada dasarnya mengukur pokok-pokok yang akan diukur.

8. Hasil
  • Hanya memuat hasil penelitian saja.
  • Tidak memuat interpretasi dan diskusi.
  • Berisi fakta berupa tabel, gambar, grafik dalam teks.
  • Dimulai dengan deskripsi sampel, misalnya jumlah dan ketegori sampel, dan pemaparan hasil penelitian dengan menggunakan lambang dan bilangan.
Misalnya:
Ceria menonton film Harriet the spy sampai sepuluh kali karena senang dengan alurnya.Di antara 50 penggali pada penggalian situs arkeologi di Sangiran, 3 orang bergelar Profesor, 5 orang bergelar Doktor, 7 orang bergelar Sarjana Utama, sedangkan lainnya bergelar Sarjana, Sarjana Muda, dan lulusan SMU.
9. Pembahasan
Elemen yang biasa dimuat dalam pembahasan adalah:
1. Tinjauan penemuan
2. Pertimbangan tentang penemuan dalam kaitannya dengan penelitian terdahulu yang relevan.
3. Implikasi penemuan dengan teori/pustaka acuan
4. Pemeriksaan terhadap hasil yang mendukung dan tidak mendukung hipotesis
5. Keterbatasan studi yang berakibat pada simpulan dan generalisasi studi.
6. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya
7. Implikasi studi untuk praktek atau studi terapan (opsoinal).

Contoh.
Penemuan letak carries pada akar gigi geraham bawah pada pengunyah daun koka dalam penelitian ini kosisten dengan laporan Turner (1993) yang menemukan kerusakan alveolar pada gigi-gigi pipi.

Pembahasan yang baik menginterpretasikan setiap hasil dalam konteks teoritis yang dipaparkan dalam tinjauan pustaka pada Pengantar. 

10. Simpulan
Hal mendasar dalam simpulan adalah buat pertanyaan “apa hasil yang paling penting dari penelitian ini?” sebelum menuangkannya dalam kalimat. Simpulan biasanya disertai dengan saran akan penelitian selanjutnya

11. Ucapan Terima Kasih
Subbab ini ditulis untuk mereka yang membantu penelitian dan penulisan sampai selesai. Ucapan terima kasih pada lembaga/ instansi, pembimbing,  dan keluarga

12. Daftar Pustaka
Nama pengarang, tahun  terbit, judul buku, nama penerbit, dan kota penerbit.
Contoh:
Buku 
Amstrong, Karen. 1994. A history God. Ballantine Books, New York.

  Jurnal
Small, J.Kenneth. 1997. (judul artikel) The giving of Hostages. (jurnal) Politics and the Life Sciences. (vol dan nomor) 16(1):77-85 (halaman).

  Makalah yang dipresentasikan dalam seminar
Indriati, E. 1999. Molar Patterns on Javanese People. Makalah dipresentasikan pada the Internasional Conference on Paleoanthropology, October 14-19, Beijing.


b. Meskipun definisi dan pengertian yang berbeda-beda, kebanyakan ahli sepakat bahwa tingkah laku altruitis pada manusia adalah tindakan sukarela dengan tujuan untuk kepentingan orang lain, dan lebih merupakan tujuan tingkah laku itu sendiri daripada alat untuk mendapatkan ganjaran dari luar (Bartal, 1976; Mussen dan Eisenberg, 1977; Staub, 1979)